Diversifikasi Bijak Dengan Membeli Obligasi

membeli obligasi

Hai rekan-rekan Ruphiah!

Ketika situasi dunia keuangan lagi gonjang-ganjing macam sekarang, nampaknya membeli obligasi menjadi salah satu pilihan diversifikasi yang paling rasional untuk menyelamatkan anggaran keluarga. Meski tingkat keuntungan yang ditawarkan tidak terlalu tinggi, tapi tingkat keamanannya lebih diterima daripada saham yang sangat fluktuatif.

Namun demikian, bukan berarti membeli obligasi ini tanpa risiko lhoh. Namanya investasi dimana-mana tetap aja ada risikonya.

Akan saya beri contoh seperti ini,

Perusahaan susu XXX membutuhkan dana untuk ekspansi mereka, akhirnya meminjam utang kepada banyak orang. Caranya gimana? Yaitu dengan menerbitkan obligasi, yang pada akhirnya akan dibeli orang-orang tersebut. Imbalan yang ditawarkan adalah 10% setiap tahunnya. Pertanyaannya adalah, bagaimana jika perusahaan tersebut bangkrut tanpa sisa?

Jika itu sampai terjadi, maka uang yang kita gunakan untuk membeli obligasi tersebut akan lenyap juga!

Oleh karena itu, meski kelihatan mudah, tapi jangan dianggap sepele. Tetap juga kita sebagai investor perlu belajar dasar-dasar mengenai obligasi ini. Yuk bahas satu persatu!

Apa yang harus diperhatikan ketika membeli obligasi?

1. Keuntungan Obligasi

Jadi dari pembelian obligasi, Anda akan mendapat kupon sebagai imbalan telah memberi pinjaman obligasi. Biasanya nih ya, kupon obligasi tadi lebih tinggi daripada bunga SBI maupun daripada deposito.

Selain kupon, Anda sebagai pemilik obligasi juga bisa menjual obligasi ke pasar layaknya saham sehingga bisa memperoleh gain. Harganya pun bervariasi, tetapi tidak semua obligasi loh ya. Khusus untuk obligasi-obligasi yang tradeable. Memang sih, pada kenyataannya trading obligasi akan kurang likuid dibandingkan dengan trading saham.

2. Siapa saja yang bisa menerbitkan obligasi?

Saya pernah membahasnya tentang defisit APBN, bahwa salah satu cara pemerintah mencari dana adalah dengan menerbitkan obligasi negara. Sama halnya dengan pemerintah daerah, kalau di luar negeri uda terkenal tu yang namanya municipal bond. Sayangnya belum bisa teraplikasikan dengan baik di Indonesia.

Jadi dapat kita simpulkan bahwa yang bisa menerbitkan obligasi adalah:
– Pemerintah Indonesia
– Pemerintah Daerah
– Perusahaan BUMN
– Perusahaan Swasta
– Special Purpose Vehicle

3. Bagaimana cara menganalisis obligasi?

Ketika sebuah entitas mau menerbitkan obligasi, maka mereka akan membuat prospektus yang tujuannya agar regulator dan calon pembeli memahami rencana penggunaan dana yang dihimpun dari obligasi tersebut.

Di prospektus tadi, Anda akan menemukan serba-serbi Perusahaan mulai dari susunan manajemen, laporan keuangan, hingga permasalahan yang sedang dihadapi. Kalau obligasi nya masih dalam tahap mau menerbitkan, maka akan sangat elok jika Anda mempelajarinya terlebih dahulu sehingga mantap ketika membelinya.

Selain itu periksa sejarah perusahaan, apakah mereka bermasalah di instrumen pembiayaan lain semisal saham.

Dalam menerbitkan obligasi, perusahaan membutuhkan underwriter. Anda juga bisa mengukur kapabilitas dari obligasi tersebut dari kapasitas si underwriter. Semakin terkenal si underwriter, maka semakin bagus pula obligasi tersebut. Karena bagaimanapun juga underwriter ogah menjamin efek yang jelek.

4. Pasar Primer atau Pasar Sekunder?

Sudah tau dong ya, obligasi pertama pasti jualnya di pasar primer. Biasanya pula, sudah dijatah nih ke agen besar untuk kemudian didistrubisikan ke ritel.

Obligasi sendiri ada yang tradeable dan non-tradeable, dan khusus yang tradeable Anda bisa mendapatkan di pasar sekunder dengan harga yang berfluktuasi. Jika harganya naik maka yieldnya akan turun, dan sebaliknya jika yieldnya turun maka harganya akan naik.

Oh iya, yield itu artinya imbal hasil yang diharapkan oleh investor!

Kondisi ekonomi nasional akan sangat berpengaruh dengan harga obligasi. Karena situasi yang tidak kondusif akan memancing investor untuk meminta yield yang lebih tinggi. Sebagai contoh adalah di Yunani sono, yield obligasi negara-nya bisa tembus di atas 30% ketika di Indonesia yieldnya cuma kisaran 6%-7%.

5. Peringkat Obligasi

Nah yang namanya obligasi ni diperingkat oleh pemeringkat efek. Anda akan menemui nama-nama seperti Pefindo, ICRA Indonesia, Standard & Poor, Moodys, dan Fitch Rating Indonesia.

Istilah peringkatnya sendiri berbeda-beda, tetapi pada umumnya akan terbagi menjadi dua yaitu investment grade dengan nilai tertinggi AAA dan terendah Baa3, sedangkan non investment grade dengan nilai tertinggi Ba1 dan terendah Caa3.

Jelas dong semakin berisiko maka imbal hasilnya akan semakin kecil, so pilihan pembelian obligasi tetap di tangan Anda. Karena si pemeringkat hanya menunjukkan pandangan mereka atas obligasi dari sudut pandang mereka.

Well, nampaknya sudah cukup ya kawan-kawan Ruphiah, semoga bermanfaat untuk investasi obligasi Anda!

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.